Kini Dimungkinkan Mengatur Siklus Haid Perempuan Aktif
Setiap perempuan umumnya mengalami sindrom "bulanan". Sindrom itu sangat mengganggu aktivitas perempuan, terutama mereka yang aktif bekerja di luar rumah. Inilah yang disebut sindrom pra-haid.
"Sindrom ini dirasakan juga sangat mengganggu dalam keadaan-keadaan khusus," kata Andon Hestiantoro, dokter ahli kandungan dari Divisi Imunoendokrinologi Reproduksi Departemen Obstetri dan Ginekologi, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Kamis (1/2) di Jakarta.
Keadaan-keadaan khusus tersebut, misalnya, ingin melakukan perjalanan jauh, ujian, pertandingan olahraga, ibadah puasa serta ibadah haji.
Sindrom pra-haid sangat menyiksa. Hampir 75 persen perempuan mengalaminya, antara lain, menjadi depresi, cemas, afektif labil, mudah marah, kurang bergairah/kurang motivasi, gangguan konsentrasi, letih, lesu, lemah, nafsu makan bertambah, gangguan tidur, mengantuk, gejala fisik seperti payudara tegang, timbul jerawat di wajah, sampai kram perut.
"Kram perut adalah salah satu masalah saat menstruasi. Begitu juga pendarahan yang banyak, dapat mengakibatkan terjadinya anemia. Hb bisa turun jadi 9, padahal hb normal 12," katanya.
Siklus haid
Andon memaparkan, haid atau menstruasi merupakan pelepasan lapisan dalam (endometrium) yang disertai pendarahan, terjadi berulang "setiap bulan", kecuali pada saat hamil. Waktu sejak hari pertama haid sampai datangnya haid periode berikutnya disebut siklus haid. Siklus haid perempuan normal berkisar 21-35 hari dan hanya 10-15 persen perempuan yang memiliki siklus haid 28 hari.
Setiap bulannya, haid berlangsung sekitar 3-7 hari. Setelah hari kelima dari siklus haid, endometrium mulai tumbuh dan menebal sebagai persiapan terhadap kemungkinan
terjadinya kehamilan. Pada sekitar hari ke-28, jika tidak terjadi pembuahan, endometrium meluruh dan terjadilah siklus berikutnya. Proses pertumbuhan dan penebalan endometrium kemudian dimulai lagi pada siklus berikutnya.
Kini perempuan aktif dimungkinkan mengatur sendiri siklus haid mereka. Mengatur siklus haid dapat dilakukan dengan berbagai cara, yaitu dengan cara menunda haid atau menjarangkannya. Haid dimungkinkan tidak terjadi setiap bulan, tetapi dalam kurun waktu tertentu, misalnya empat kali dalam setahun.
"Itu bisa terjadi jika perempuan tersebut mengonsumsi kontrasepsi oral yang mengandung hormon estrogen dan progesteron. Dengan demikian, bagi yang melaksanakan ibadah puasa atau ibadah haji tidak terganggu. Juga yang sedang melakukan perjalanan jauh," ujar Andon Hestiantoro.
Sumber : Kompas.com
***
Wadohh... bisa berdampak ga oke dunk sama kesehatan produksi kita. Bayangkan, Siklus haid terjadi stiap bulannya, dimana secara alami sebagai tempat pembuangan dinding rahim yang sebenernya tuh untuk pertumbuhan janin, karena tidak ada pembuahan ya ga jadi janin. So, darah haid itu bukan darah biasa yang keluar dari pembuluh venaatau arteri kalau kita terluka.
Kalo emang intinya buat para jemaah haji wanita sih kayanya ok ok aja, dengan catatan MENUNDA. bukannya 4-5 bulan siklus haidnya di tunda2 gitu dunk.. ini kan namanya menyalahi kodratnya sebagai wanita. Kalo gw sih, takut kalo “telat”, beda kali ya sama kaka ipar gw yang kepengen “telat”. Halah.. kok ini malah sengaja dibikin “telat”.. ceck ceck ceckkk...


7 comments:
hihihi, masalah perempuan jd malu comment aku
klu jaman Aisyah saja tidak perlu adanya penahanan siklus ini Lan, jadi ada para jamaah wanita enggan menggunakan obat penahan krn itu sudah kodrat kita sebage wanita, tul teu?
ehm... masalah wanita kurang ngerti nih. tp ya lebih baik biarkan saja seperti adanya. Tuhan kan menciptakan wanita spt itu pasti ada hikmahnya.
untung pria ga bisa begitu ya...
hmmmm... :)
aku mo komen apa yah??bingung ah...
iya, aku juga dah baca beritanya. yah, tapi itu 'kan pilihan untuk kondisi tertentu ajah.. kalo kita ga perlu2 banget buat nunda, ngapain juga. tapi emang sih... lama ya.. 4-5 bulan penundaannya o_O
untungnya spedaman blum pernah "dapet" :P
hehehe,,,
Post a Comment